Senin, 02 Desember 2013

Firasat buruk ?

Firasat ?

Siang begitu biasa panas sudah mewakilkan jakarta yang runyam dengan segala persoalannya. Hari masih dini untuk dikatakan senja. Kadang bergemuruh kepakan besi yang terlanjur melintas dan tak kulihat dimana posisinya. Beberapa hari ini ada firasat yang sukar aku jelaskan. Gelisah entah mengapa jadi hidangan yang begitu kental kekuatannya.

Siang terlalu panas untukku beraktifitas. Setelah bergelut beberapa lama aku putuskan untuk tidur siang. Pagi ini selepas ku berlari pagi kipas yang aku gunakan sudah kubersihkan tapi ada hal yang aneh ketika aku melakukannya. Aku melihat kipas itu seperti terbakar entahlah. Aku seperti masih mengigau aku hiraukan karena memang itu hal yang terlalu buruk untukku fikirkan. Namun ketika aku nyalakan kipas tersebut siang ini. Ada bayangan jingga yang berkobar laksana sayap pada kipas tersebut. Memang akhir-akhir ini aku terlalu antusias membaca hal-hal berbau neraka. Tentang kekejaman para pandawa. Dan mengangumi hanuman yang membakar alengka. Bagaimana seekor kera membakar kota yang dipenuhi para raksasa. Aku selalu memikirkanya tentang tulang yang henyak menjadi abu. Menjadi jutaan molekul kecil. Bukankah itu indah ? lidah api yang menganga dipelataran kota pecinta kebodohan. Mereka henyak dalam remang jeritan. Aku selalu membayangkanya ketika malam. Dimana alengka jadi hitam dengan jeritan para raksasa. Namun apakah semua itu berpengaruh terhadap psikis otakku?

Siang menjadi siang, kipas sudah kunyalakan aku berbaur kembali dengan tilam yang sudah demikian rupa aromanya aku tepiskan bayangan api yang mengobar dalam khayalan sekejap pandang. Mataku meredup arwahku seperti mengawang diantara nyata dan maya. Disana kembali aku teringat hanuman dia dengan mata yang begitu menyala tanpa belas kasih membakar alengka. Namun ada yang berbeda aku melihat ayala disana ? dengan gaun hijau muda dan mahkota daun angsana yang terlingkar lapi tepat dikepalanya.  Disana diantara para raksasa aku berlari mencoba menyelamatkannya. Ingin ku berteriak namun ada hal yang seperti menahanku. Aku mencoba terus berlari namun seorang raksasa meginjakku.

Senja jatuh lonceng itu terdengar lagi, pagi ini ketikaku beranjak untuk berlari pagi ada lentingan lonceng dari seorang pejalan kaki. Dia bergumam entah apa dengan lonceng yang ia bawa ditangan kirinya dan sebilah dupa ditangan kanannya, dia berjalan tepat diseberangku disisi jalan yang lain. Aroma dupa memikatku aku terhenyak dalam lamun. Fajar begitu baik hati angin membawa aroma dupa dari seorang pejalan kaki itu kearahku. Aku masih terus bertanya agama apa yang ia anut? Apakah dia kata gila akan disemayamkan pada dirinya. Ini agak aneh buat orang-orang mayoritas. Aku sungguh menghargai adat. Mungkin pejalan itu hanya ingin melestarikan adat yang ia jaga. Aroma dupa seperti mebiusku. Aku terhenyak aroma yang khas itu menghantarku dalam khayalan. Namun beberapa saat kemudian aku melihat sebuah sepeda melintas melewatiku dia melaju dengan biasa tak ada yang berbeda. Namun dari arah yang lai tiba-tiba kulihat sebuah mobil merah yang seperti terburu. Dia menyalip sebuah mobil tua yang kuterka berjalan diangka tigapulu atau lima puluh saja. Mobil merah itu memiliki warna yang menarik dan lukisan api tergaris rapi. Bau dupa itu hilang mobil merah itu berhenti secara tiba-tiba tepat di depan pesepeda itu. Bau karet yang terbakar menyeruak. Keramaian datang tiba-tiba dan aku bergegas lari aku bersyukur pesepeda itu selamat namun mobil itu ? membuatku teringat kembali akan kebakaran hebat yang dibuat hanuman terhadap alengka. Aku terhenyak dan dupa itu kembali menyeruak kali ini dia membangunkanku kala senja.

Aku berlari keluar setelah membuka gerbang aku tak dapat menemukan orang itu. Pemegang dupa dan lonceng tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar