Firasat ?
Siang begitu biasa panas sudah mewakilkan jakarta yang
runyam dengan segala persoalannya. Hari masih dini untuk dikatakan senja. Kadang
bergemuruh kepakan besi yang terlanjur melintas dan tak kulihat dimana
posisinya. Beberapa hari ini ada firasat yang sukar aku jelaskan. Gelisah entah
mengapa jadi hidangan yang begitu kental kekuatannya.
Siang terlalu panas untukku beraktifitas. Setelah bergelut
beberapa lama aku putuskan untuk tidur siang. Pagi ini selepas ku berlari pagi kipas yang aku gunakan
sudah kubersihkan tapi ada hal yang aneh ketika aku melakukannya. Aku melihat
kipas itu seperti terbakar entahlah. Aku seperti masih mengigau aku hiraukan
karena memang itu hal yang terlalu buruk untukku fikirkan. Namun ketika aku
nyalakan kipas tersebut siang ini. Ada bayangan jingga yang berkobar laksana
sayap pada kipas tersebut. Memang akhir-akhir ini aku terlalu antusias membaca
hal-hal berbau neraka. Tentang kekejaman para pandawa. Dan mengangumi hanuman
yang membakar alengka. Bagaimana seekor kera membakar kota yang dipenuhi para
raksasa. Aku selalu memikirkanya tentang tulang yang henyak menjadi abu. Menjadi
jutaan molekul kecil. Bukankah itu indah ? lidah api yang menganga dipelataran
kota pecinta kebodohan. Mereka henyak dalam remang jeritan. Aku selalu
membayangkanya ketika malam. Dimana alengka jadi hitam dengan jeritan para
raksasa. Namun apakah semua itu berpengaruh terhadap psikis otakku?
Siang menjadi siang, kipas sudah kunyalakan aku berbaur
kembali dengan tilam yang sudah demikian rupa aromanya aku tepiskan bayangan
api yang mengobar dalam khayalan sekejap pandang. Mataku meredup arwahku
seperti mengawang diantara nyata dan maya. Disana kembali aku teringat hanuman
dia dengan mata yang begitu menyala tanpa belas kasih membakar alengka. Namun ada
yang berbeda aku melihat ayala disana ? dengan gaun hijau muda dan mahkota daun
angsana yang terlingkar lapi tepat dikepalanya.
Disana diantara para raksasa aku berlari mencoba menyelamatkannya. Ingin
ku berteriak namun ada hal yang seperti menahanku. Aku mencoba terus berlari
namun seorang raksasa meginjakku.
Senja jatuh lonceng itu terdengar lagi, pagi ini ketikaku
beranjak untuk berlari pagi ada lentingan lonceng dari seorang pejalan kaki. Dia
bergumam entah apa dengan lonceng yang ia bawa ditangan kirinya dan sebilah
dupa ditangan kanannya, dia berjalan tepat diseberangku disisi jalan yang lain.
Aroma dupa memikatku aku terhenyak dalam lamun. Fajar begitu baik hati angin
membawa aroma dupa dari seorang pejalan kaki itu kearahku. Aku masih terus
bertanya agama apa yang ia anut? Apakah dia kata gila akan disemayamkan pada
dirinya. Ini agak aneh buat orang-orang mayoritas. Aku sungguh menghargai adat.
Mungkin pejalan itu hanya ingin melestarikan adat yang ia jaga. Aroma dupa
seperti mebiusku. Aku terhenyak aroma yang khas itu menghantarku dalam
khayalan. Namun beberapa saat kemudian aku melihat sebuah sepeda melintas
melewatiku dia melaju dengan biasa tak ada yang berbeda. Namun dari arah yang
lai tiba-tiba kulihat sebuah mobil merah yang seperti terburu. Dia menyalip
sebuah mobil tua yang kuterka berjalan diangka tigapulu atau lima puluh saja. Mobil
merah itu memiliki warna yang menarik dan lukisan api tergaris rapi. Bau dupa
itu hilang mobil merah itu berhenti secara tiba-tiba tepat di depan pesepeda
itu. Bau karet yang terbakar menyeruak. Keramaian datang tiba-tiba dan aku
bergegas lari aku bersyukur pesepeda itu selamat namun mobil itu ? membuatku
teringat kembali akan kebakaran hebat yang dibuat hanuman terhadap alengka. Aku
terhenyak dan dupa itu kembali menyeruak kali ini dia membangunkanku kala
senja.
Aku berlari keluar setelah membuka gerbang aku tak dapat
menemukan orang itu. Pemegang dupa dan lonceng tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar