Minggu, 01 Desember 2013

Kopi dan Jelaga

Kau Sama-Sama Hitam, Sama-Sama Pahit ..

seperti Kalian dengan ku..
dan Aku Butuh REmbulan Menemaniku..
menyisipi malam dengan rasa rindu..


Aku PuLang, ada mata yang jatuh dalam parit yang menjuntai sepanjang jalan..
ada rembulan yang membias dalam mata seekor jalak yang enggan terbang..
dan masih kudengar suara radio yang entah kenapa belum juga padam padahal pagi mulai menjelma jadi buritan fajar..
diantara suir-suir angin aku terbisik namamu.. RINDU


aku tiba, serta merta jalan menghajarku dengan lelah. dan ada bau yang diam-diam menelusuk ahk..
sejenak aku berehat ada kedai yang menjual sebuah kopi dan jelaga masih menganga pintu kedai itu terbuka. mengendap pula Purnama semalam masih bersisa mungkin untuk kunikmati sebelum fajar menjelma..
"aku pesan satu Kopi Jelaga"

dan seketika..
aku buta dalam pahitnya..
aku buta dalam hitamnya..
aku buta dalam rindu padanya..
Kopi dan Jelaga , Gelas kecil dengan beralas piring . kursi dengan rotan kasar yang sayup-sayup bau khas sebuah bambu masih tercium sesaat kala angin menerpa . dan diufuk jendela masih bersanding purnama menyisa saat fajar menjelma. Pahitnya tergetar dalam lelah, tidak serupa lidah yang kurasa tiada. kopi ini menjegal rasa hampa. tapi dalam jiwa tergetar rindu membahana.

fajar menjelma Purnama perlahan tiada..


aku masih belum tiba juga..


Medan,14 maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar