Rabu, 04 Desember 2013

Pesan singkat untuk diyah

Pohon dan penanda nama..

Cinta itu penalaran tanpa akhir, ada yang mungkin dan tak mungkin jadi hal yang lazim.
Pesahabatan itu ? pelantunan yang tak berbunyi. Dan teman-teman yang lazim ku temui selalu mengingatkan ku untuk selalu berdoa dalam hati.

Mahoni, boni, dadak aku terus membaca satu demi satu tanaman ditaman wisata ini. Sebuah kampung kecil yang menyerupai tempat pelarian menurutku. Banyak hal yang berubah seiring perjalanan. Perubahan tak pernah bisa dihindari jalan yang bisa kita tempuh hanyalah mengikutinya. Seperti halnya kampung ini dia yang dahulu sengsara. Kini berubah rapi dan juga jelita. Yang aku benci tak lagi kudapati anak-anak bermain dipinggirnya. Waduk ini sudah dipagari pembatas. Dan sebuah iklan layanan masyarakat menyebutkan sebuah larangan fatal. “dilarang berenang diwaduk ini”. Ayolah ini dunia fantasi untuk masa kecil. Hal-hal yang menyenangkan sudah tak ada lagi disini. Ada bapak-bapak tua kuterka mungkin pesiunan tentara yang rajin memancing disini juga masih ada mungkin ini satu-satunya hal yang tak berubah dikampung ini. Penjaring ikan juga kian sedikit, aku rasa mereka diteror para pemancing. Oh iya sangkar ikan sudah sedikit jumlahnya memang selain anak-anak dilarang bermain dikubangan besar ini ada larangan lain mengenai sangkar ikan.
Seperti biasa aku memesan sebuah kopi tanpa ampas dengan es secukupnya. Aku tak mau membekukan kepalaku. aku dan blog sudah mulai akrab walau membangunnya aku selalu membutuhkan teman. Ya walau akhirnya kesendirian lebih banyak kupilih akhir-akhir ini. Dalam selang waktu dua bulan ini aku mulai sedikit merasaka arogansi. Dan pemikiran yang sedikit tak wajar. Tentang pernikahan, tentang kehidupan, dan banyak bayangan tentang neraka. Hanya ayala yang ku fikirkan secara wajar dengan rinai bunga dan semacam embun dari telaga ku gambarkan dirinya. Selain itu aku sering berkata tentang kemunafikan ( aku rasa ).
Langit mendung, beberapa cahaya kilat berbicara pada mataku untuk segera menuntun kuda besi ini bergerak menuju rumah. Namun ada yang menghalangiku, sebuah pesan pendek atas kemalasan seseorang untuk datang menemuiku. Disini aku jadi berfikir mengenai ke naifan. Aku bertahan pada opini dan membesarkannya dengan omongkosong. Berkata berlebihan sesaat membuatku senang. Membuat dia yang pernah mengecewakanku itu menderita seperti sebuah kebahagiaan buatku. Hujan datang rintiknya kali ini cukup kasar. Membuatku seperti terburu mengambil keputusan. Membalas pesan itu dengan singkat dan padat mengatakan tentang dia yang aku fikir hanyalah teman. Namun dia masih bersikeras mengatakan sebuah ikatan ini persahabatan. Langit kian direnggut gelap hujan perlahan jatuh semakin deras. Para pejalan kaki melirik toko-toko yang tutup untuk berteduh. Para pasangan muda-mudi yang sudah rapi kini tak jadi beranjak pergi.
Mahoni, boni , dadak aku kembali membacanya saat aku memilih kembali hujan kian rapi datang menghujat bumi. Dia menamparku tuk menepi, lalu dedaunan jatuh terhampar  angin berteman dengan hujan. Di tepian toko gado-gado ini kumemilih menepi. Lalu ku baca kembali nama-nama pohon. Lalu ada yang tiba-tiba kupahami.


Diyah maaf..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar