Pohon dan penanda nama..
Cinta itu penalaran tanpa akhir, ada yang mungkin dan tak
mungkin jadi hal yang lazim.
Pesahabatan itu ? pelantunan yang tak berbunyi. Dan teman-teman
yang lazim ku temui selalu mengingatkan ku untuk selalu berdoa dalam hati.
Mahoni, boni, dadak aku terus membaca satu demi satu tanaman
ditaman wisata ini. Sebuah kampung kecil yang menyerupai tempat pelarian
menurutku. Banyak hal yang berubah seiring perjalanan. Perubahan tak pernah
bisa dihindari jalan yang bisa kita tempuh hanyalah mengikutinya. Seperti halnya
kampung ini dia yang dahulu sengsara. Kini berubah rapi dan juga jelita. Yang aku
benci tak lagi kudapati anak-anak bermain dipinggirnya. Waduk ini sudah
dipagari pembatas. Dan sebuah iklan layanan masyarakat menyebutkan sebuah
larangan fatal. “dilarang berenang diwaduk ini”. Ayolah ini dunia fantasi untuk
masa kecil. Hal-hal yang menyenangkan sudah tak ada lagi disini. Ada bapak-bapak
tua kuterka mungkin pesiunan tentara yang rajin memancing disini juga masih ada
mungkin ini satu-satunya hal yang tak berubah dikampung ini. Penjaring ikan
juga kian sedikit, aku rasa mereka diteror para pemancing. Oh iya sangkar ikan
sudah sedikit jumlahnya memang selain anak-anak dilarang bermain dikubangan
besar ini ada larangan lain mengenai sangkar ikan.
Seperti biasa aku memesan sebuah kopi tanpa ampas dengan es
secukupnya. Aku tak mau membekukan kepalaku. aku dan blog sudah mulai akrab
walau membangunnya aku selalu membutuhkan teman. Ya walau akhirnya kesendirian
lebih banyak kupilih akhir-akhir ini. Dalam selang waktu dua bulan ini aku
mulai sedikit merasaka arogansi. Dan pemikiran yang sedikit tak wajar. Tentang pernikahan,
tentang kehidupan, dan banyak bayangan tentang neraka. Hanya ayala yang ku
fikirkan secara wajar dengan rinai bunga dan semacam embun dari telaga ku
gambarkan dirinya. Selain itu aku sering berkata tentang kemunafikan ( aku rasa
).
Langit mendung, beberapa cahaya kilat berbicara pada mataku
untuk segera menuntun kuda besi ini bergerak menuju rumah. Namun ada yang
menghalangiku, sebuah pesan pendek atas kemalasan seseorang untuk datang
menemuiku. Disini aku jadi berfikir mengenai ke naifan. Aku bertahan pada opini
dan membesarkannya dengan omongkosong. Berkata berlebihan sesaat membuatku
senang. Membuat dia yang pernah mengecewakanku itu menderita seperti sebuah
kebahagiaan buatku. Hujan datang rintiknya kali ini cukup kasar. Membuatku seperti
terburu mengambil keputusan. Membalas pesan itu dengan singkat dan padat
mengatakan tentang dia yang aku fikir hanyalah teman. Namun dia masih
bersikeras mengatakan sebuah ikatan ini persahabatan. Langit kian direnggut
gelap hujan perlahan jatuh semakin deras. Para pejalan kaki melirik toko-toko
yang tutup untuk berteduh. Para pasangan muda-mudi yang sudah rapi kini tak
jadi beranjak pergi.
Mahoni, boni , dadak aku kembali membacanya saat aku memilih
kembali hujan kian rapi datang menghujat bumi. Dia menamparku tuk menepi, lalu dedaunan
jatuh terhampar angin berteman dengan
hujan. Di tepian toko gado-gado ini kumemilih menepi. Lalu ku baca kembali
nama-nama pohon. Lalu ada yang tiba-tiba kupahami.
Diyah maaf..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar